Cite This        Tampung        Export Record
Judul PENINGKATAN NILAI TAMBAH LIMBAH KAKAO SEBAGAI PUPUK ORGANIK DAN PAKAN TERNAK MELALUI PEMANFAATAN BIOAKTIVATOR UNGGUL ISOLAT LOKAL SEBAGAI DEKOMPOSER
Pengarang Prof. Dr. Tutik Kuswinanti
Penerbitan 2014
ISMN --profdrtuti-8891
/Hasil-Hasil Penelitian/
Subjek limbah kakao, dekomposer, pengembangan formulasi
Abstrak Kulit buah kakao merupakan limbah utama dari tanaman kakao yang dapat dimanfaatkan baik sebagai pupuk organik maupun pakan ternak. Untuk luas lahan sebesar 972.400 hektar dapat menghasilkan coklat sebanyak 572,9 ribu ton, sedangkan limbah yang dihasilkan mencapai 1.876.600 ton/tahun. Namun demikian, hanya 94.515 ton limbah yang telah dimanfaatkan. Kandungan hara mineral kulit buah kakao cukup tinggi, khususnya hara Kalium dan Nitrogen. Sebanyak 61% dari total nutrien buah kakao disimpan di dalam kulit buah. Kandungan hara kompos yang dibuat dari kulit buah kakao adalah 1,81 % N, 26,61 % C-organik, 0,31% P2O5, 6,08% K2O, 1,22% CaO, 1,37 % MgO, dan 44,85 cmol/kg KTK. Aplikasi kompos kulit buah kakao terbukti dapat meningkatkan produksi hingga 19,48%. Dilain pihak, limbah tanaman kakao yang sangat melimpah ini jika tidak dikelola dengan baik akan memicu berbagai masalah yang serius seperti sumber pencemaran lingkungan (gas methana, CO2 dan NO2) dan yang utama adalah menjadi tempat berkembangbiaknya Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) seperti patogen busuk buah kakao (Phytopthora palmivora), kanker batang (Diplodia sp) dan beberapa jenis hama. Kebanyakan petani hanya menimbun sisa hasil panen dan limbah lainnya disekitar pertanaman, sehingga menciptakan kondisi yang optimal bagi berkembangnya patogen. Penelitian kami sebelumnya (Sinta, 2007, Penelitian Prodi, 2012), menunjukkan bahwa cendawan Trichoderma sp, bakteri Bacillus sp, Lactobacillus sp, Actinomyces, Pseudomonas sp dan beberapa jenis bakteri lainnya ditemukan berasosiasi dalam perombakan limbah kakao. Dari 25 isolat jamur pelapuk yang diuji, hanya terdapat 7 isolat yang potensil dalam menghasilkan sejumlah enzim perombak (selulase, proteinase, lignase dan amilase), selanjutnya dari uji pertumbuhan pada media sintetik dan media organik, diperoleh 3 isolat jamur pelapuk yang paling cepat pertumbuhannya serta memiliki kemampuan yang tinggi dalam mendekomposisi sekam padi, jerami padi, kulit buah dan daun kakao. Hasil penelitian tahun pertama menunjukkan bahwa pertumbuhan 7 isolat-isolat jamur pelapuk yang diuji pada media MPA paling baik diamati pada isolat JM, MKS dan KSH. Perlakuan dengan kombinasi 3 jenis jamur pelapuk dan biostarter dari kelompok bakteri pada media kulit kakao dapat menurunkan kadar lignoselulosa lebih besar dibanding dengan pemberian secara tunggal. Perbandingan pemberian secara tunggal dan kombinasi isolat dekomposer juga telah dilakukan pada limbah kulit kakao skala lapang terbatas. Hasil pengujian menunjukkan bahwa nilai kadar N, P, dan K pada perlakuan secara kombinasi cenderung lebih tinggi dibandingkan aplikasi tunggal. Rasio C/N pada perlakuan kombinasi juga lebih rendah dibandingkan dengan perlakuan tunggal yang berarti proses penguraian bahan berlangsung lebih cepat. Bentuk formulasi untuk dekomposer kelompok bakteri dibuat dalam bentuk cair, sedangkan untuk dekomposer dari kelompok jamur dibuat dalam formulasi bentuk padatan dengan menggunakan media organik serbuk kayu yang dicampur dengan dedak dan kapur. Kedua bentuk formulasi dan cara aplikasinya pada limbah kakao telah disosialisasikan kepada kelompok tani di Kec. Eremerasa, Kab. Bantaeng.Tahapan penelitian tahun kedua meliputi pengembangan bentuk formulasi biostarter baik dalam bentuk cair, tepung maupun granular yang didasarkan pada hasil tahun pertama. Dalam tahapan ini juga akan diuji bentuk dan jenis kemasanyang paling baik serta daya simpannya. Pengujian masing-masing bentuk formulasi akan dilakukan pada demplot serta kelompok tani di lokasi yang sama. Selain itu hasil pengomposan limbah kakao akan diujikan pada bibit tanaman kakao untuk mengetahui efektivitasnya sebagai pupuk organik. Melalui penyuluhan pada kelompok tani, diharapkan partisipasi kelompok tani lainnya akan semakin besar. Tahun ketiga akan dititik beratkan pada pemanfaatan hasil pengembangan produk di lapangan sebagai pakan ternak. Ekstrak biostarter juga akan diujikan pada buah kakao yang terserang Phytopthora palmivora untuk mengetahui efeknya sebagai biopestisida. Untuk pakan ternak, pemberian kompos kulit kakao akan diberikan pada kambing dengan variasi ransum yang bertingkat. Diharapkan dari kegiatan ini akan diperoleh bentuk formulasi biodekomposer unggulan dari kelompok bakteri, jamur pelapuk putih dan coklat yang dapat dimanfaatkan dalam pengelolaan limbah kakao secara optimal. Luaran tahun kedua adalah artikel yang akan dipublikasikan dalam jurnal Internasional/Nasional terakreditasi, keterlibatan mahasiswa S1, S2 dan S3. Dengan diperolehnya bentuk formulasi yang optimal pada tahun kedua, luaran yang juga ditargetkan adalah perolehan Paten serta keikutsertaan dalam seminar berskala Nasional dan Internasional. Kata kunci: limbah kakao, dekomposer, pengembangan formulasi
Bahasa Indonesia
Bentuk Karya Tidak ada kode yang sesuai
Target Pembaca Tidak ada kode yang sesuai

 
No Barcode No. Panggil Akses Lokasi Ketersediaan
Tag Ind1 Ind2 Isi
001 INLIS000000000008392
005 20170502071422
008 170502||||||||| | ||| |||| ||ind||
024 0 $a--profdrtuti-8891
024 0 $a/Hasil-Hasil Penelitian/
035 0010-0517008392
041 $a ind
042 $adc
100 0 $a Prof. Dr. Tutik Kuswinanti
245 0 0 $a PENINGKATAN NILAI TAMBAH LIMBAH KAKAO SEBAGAI PUPUK ORGANIK DAN PAKAN TERNAK MELALUI PEMANFAATAN BIOAKTIVATOR UNGGUL ISOLAT LOKAL SEBAGAI DEKOMPOSER
246 0 $a-2013
260 $c 2014
520 $a Kulit buah kakao merupakan limbah utama dari tanaman kakao yang dapat dimanfaatkan baik sebagai pupuk organik maupun pakan ternak. Untuk luas lahan sebesar 972.400 hektar dapat menghasilkan coklat sebanyak 572,9 ribu ton, sedangkan limbah yang dihasilkan mencapai 1.876.600 ton/tahun. Namun demikian, hanya 94.515 ton limbah yang telah dimanfaatkan. Kandungan hara mineral kulit buah kakao cukup tinggi, khususnya hara Kalium dan Nitrogen. Sebanyak 61% dari total nutrien buah kakao disimpan di dalam kulit buah. Kandungan hara kompos yang dibuat dari kulit buah kakao adalah 1,81 % N, 26,61 % C-organik, 0,31% P2O5, 6,08% K2O, 1,22% CaO, 1,37 % MgO, dan 44,85 cmol/kg KTK. Aplikasi kompos kulit buah kakao terbukti dapat meningkatkan produksi hingga 19,48%. Dilain pihak, limbah tanaman kakao yang sangat melimpah ini jika tidak dikelola dengan baik akan memicu berbagai masalah yang serius seperti sumber pencemaran lingkungan (gas methana, CO2 dan NO2) dan yang utama adalah menjadi tempat berkembangbiaknya Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) seperti patogen busuk buah kakao (Phytopthora palmivora), kanker batang (Diplodia sp) dan beberapa jenis hama. Kebanyakan petani hanya menimbun sisa hasil panen dan limbah lainnya disekitar pertanaman, sehingga menciptakan kondisi yang optimal bagi berkembangnya patogen. Penelitian kami sebelumnya (Sinta, 2007, Penelitian Prodi, 2012), menunjukkan bahwa cendawan Trichoderma sp, bakteri Bacillus sp, Lactobacillus sp, Actinomyces, Pseudomonas sp dan beberapa jenis bakteri lainnya ditemukan berasosiasi dalam perombakan limbah kakao. Dari 25 isolat jamur pelapuk yang diuji, hanya terdapat 7 isolat yang potensil dalam menghasilkan sejumlah enzim perombak (selulase, proteinase, lignase dan amilase), selanjutnya dari uji pertumbuhan pada media sintetik dan media organik, diperoleh 3 isolat jamur pelapuk yang paling cepat pertumbuhannya serta memiliki kemampuan yang tinggi dalam mendekomposisi sekam padi, jerami padi, kulit buah dan daun kakao. Hasil penelitian tahun pertama menunjukkan bahwa pertumbuhan 7 isolat-isolat jamur pelapuk yang diuji pada media MPA paling baik diamati pada isolat JM, MKS dan KSH. Perlakuan dengan kombinasi 3 jenis jamur pelapuk dan biostarter dari kelompok bakteri pada media kulit kakao dapat menurunkan kadar lignoselulosa lebih besar dibanding dengan pemberian secara tunggal. Perbandingan pemberian secara tunggal dan kombinasi isolat dekomposer juga telah dilakukan pada limbah kulit kakao skala lapang terbatas. Hasil pengujian menunjukkan bahwa nilai kadar N, P, dan K pada perlakuan secara kombinasi cenderung lebih tinggi dibandingkan aplikasi tunggal. Rasio C/N pada perlakuan kombinasi juga lebih rendah dibandingkan dengan perlakuan tunggal yang berarti proses penguraian bahan berlangsung lebih cepat. Bentuk formulasi untuk dekomposer kelompok bakteri dibuat dalam bentuk cair, sedangkan untuk dekomposer dari kelompok jamur dibuat dalam formulasi bentuk padatan dengan menggunakan media organik serbuk kayu yang dicampur dengan dedak dan kapur. Kedua bentuk formulasi dan cara aplikasinya pada limbah kakao telah disosialisasikan kepada kelompok tani di Kec. Eremerasa, Kab. Bantaeng.Tahapan penelitian tahun kedua meliputi pengembangan bentuk formulasi biostarter baik dalam bentuk cair, tepung maupun granular yang didasarkan pada hasil tahun pertama. Dalam tahapan ini juga akan diuji bentuk dan jenis kemasanyang paling baik serta daya simpannya. Pengujian masing-masing bentuk formulasi akan dilakukan pada demplot serta kelompok tani di lokasi yang sama. Selain itu hasil pengomposan limbah kakao akan diujikan pada bibit tanaman kakao untuk mengetahui efektivitasnya sebagai pupuk organik. Melalui penyuluhan pada kelompok tani, diharapkan partisipasi kelompok tani lainnya akan semakin besar. Tahun ketiga akan dititik beratkan pada pemanfaatan hasil pengembangan produk di lapangan sebagai pakan ternak. Ekstrak biostarter juga akan diujikan pada buah kakao yang terserang Phytopthora palmivora untuk mengetahui efeknya sebagai biopestisida. Untuk pakan ternak, pemberian kompos kulit kakao akan diberikan pada kambing dengan variasi ransum yang bertingkat. Diharapkan dari kegiatan ini akan diperoleh bentuk formulasi biodekomposer unggulan dari kelompok bakteri, jamur pelapuk putih dan coklat yang dapat dimanfaatkan dalam pengelolaan limbah kakao secara optimal. Luaran tahun kedua adalah artikel yang akan dipublikasikan dalam jurnal Internasional/Nasional terakreditasi, keterlibatan mahasiswa S1, S2 dan S3. Dengan diperolehnya bentuk formulasi yang optimal pada tahun kedua, luaran yang juga ditargetkan adalah perolehan Paten serta keikutsertaan dalam seminar berskala Nasional dan Internasional. Kata kunci: limbah kakao, dekomposer, pengembangan formulasi
540 $aCopyright Â(c) 2001 by . Verbatim copying and distribution of this entire article is permitted by author in any medium, provided this notice is preserved.
546 $aBahasa Indonesia
650 0 $a limbah kakao, dekomposer, pengembangan formulasi
655 0 $adc_document$2local
655 0 $ares$2local
786 0 $n
786 0 $n
787 0 $n
787 0 $n#RELATION_EXTERNAL_ENTITIES#
787 0 $n1
Content Unduh katalog