Cite This        Tampung        Export Record
Judul PEMBUATAN KUE BARUASA DENGAN SUBSTITUSI TEPUNG KACANG GUDE DAN PENAMBAHAN SARI DAUN KELOR SEBAGAI CAMILAN SEHAT KHAS SULAWESI SELATAN / HASNIAR ANWAR
Pengarang HASNIAR ANWAR
EDISI Skripsi
Penerbitan Universitas Hasanuddin : Fak. Pertanian, 2018
Deskripsi Fisik 72 hlm. :ilus.
Subjek Zat besi
Baruasa
Kacang gude ( Cajanus cajan)
Daun kelor (Moringa oleifera)
Abstrak Hasil alam yang dapat dimanfaatkan sebagai produk makanan bergizi adalah kacang gude (Cajanus cajan) dan daun kelor (Moringa oleifera) keduanya memiliki kandungan zat besi yang tinggi. Kacang gude merupakan jenis kacang - kacangan yang mengand ung kadar karb ohidrat, mikro elemen, dan kadar protein yang tinggi. Sedangkan daun kelor (Moringa oleifera) merupakan sumber vitamin serta zat besi Penelitian ini akan dibuat produk olahan yakni baruasa sebagai camilan sehat khas Sulawesi Selatan sehingga diperlukan fo rmulasi tepat pada pembuatan baruasa terhadap kandungan gizi terutama zat besinya serta daya terima masyarakat terhadap sifat organoleptiknya. Tahap awal dilakukan penentuan formulasi terbaik dari pembuatan baruasa. Adapun formulasi yang dipilih pada penel itian ini yakni tepung beras: tepung kacang gude A1 (70:30%), A2 (60:40%), A3 (50:50%), dan (40:60 %). Adapun parameter pengamatan yakni uji proksimat (kadar air, kadar abu, kadar protein, lemak dan karbohidrat), uji zat besi serta mutu organoleptik (warna , aroma, rasa dan tekstur). Selanjutnya dilakukan uji daya terima pada siswa SD menggunakan metode facial hedonic scale. Hasil uji proksimat berturut - turut A1, A2, A3 dan A4 yaitu kadar air (1,23%, 1,52%, 1,15%, 1,32%), kadar abu (1,19%, 1,32%, 1,63%, 1,95 %), kadar protein (9,82%, 10,86%, 11,70%, 11,25%) lemak (19,00%, 13,60%, 18,92%, 8,51%) dan karbohidrat (68,76%, 72,69%, 66,60%, 76,97%). Sedangkan hasil uji zat besi berturut - turut A1, A2, A3, A4 yakni (101,23 ug/l, 68,60 ug/l, 28,40 ug/l dan 47,20 ug/l). Berdasarkan hasil organoleptik, dipilih perlakuan terbaik dari empat perlakuan yakni perlakuan A1 dengan perbandingan tepung beras 70% dan tepung kacang gude 30%. Selanjutnya dilakukan uji daya terima terhadap siswa SD diperoleh 34 orang menjawab suka, 9 orang menjawab netral, 5 orang menjawab tidak suka, dan 2 orang menjawab sangat tidak suka. Kesimpulan dari penelitian ini yakni formulasi terbaik secara organoleptic adalah perlakuan A1 (70:30%), sedangkan formulasi yang tepat secara kandungan gizi adalah perlakuan A4 (40:60%).

 
No Barcode No. Panggil Akses Lokasi Ketersediaan
00000005517 SKR P18 HAS p Baca di tempat Perpustakaan Pusat - Koleksi Khusus Tersedia
Tag Ind1 Ind2 Isi
001 INLIS000000000043056
005 20181009091158
035 # # $a 0010-1018000143
084 # # $a SKR P18 HAS p
100 0 # $a HASNIAR ANWAR
245 1 # $a PEMBUATAN KUE BARUASA DENGAN SUBSTITUSI TEPUNG KACANG GUDE DAN PENAMBAHAN SARI DAUN KELOR SEBAGAI CAMILAN SEHAT KHAS SULAWESI SELATAN /$c HASNIAR ANWAR
250 # # $a Skripsi
260 # # $a Universitas Hasanuddin :$b Fak. Pertanian,$c 2018
300 # # $a 72 hlm. : $b ilus.
520 # # $a Hasil alam yang dapat dimanfaatkan sebagai produk makanan bergizi adalah kacang gude (Cajanus cajan) dan daun kelor (Moringa oleifera) keduanya memiliki kandungan zat besi yang tinggi. Kacang gude merupakan jenis kacang - kacangan yang mengand ung kadar karb ohidrat, mikro elemen, dan kadar protein yang tinggi. Sedangkan daun kelor (Moringa oleifera) merupakan sumber vitamin serta zat besi Penelitian ini akan dibuat produk olahan yakni baruasa sebagai camilan sehat khas Sulawesi Selatan sehingga diperlukan fo rmulasi tepat pada pembuatan baruasa terhadap kandungan gizi terutama zat besinya serta daya terima masyarakat terhadap sifat organoleptiknya. Tahap awal dilakukan penentuan formulasi terbaik dari pembuatan baruasa. Adapun formulasi yang dipilih pada penel itian ini yakni tepung beras: tepung kacang gude A1 (70:30%), A2 (60:40%), A3 (50:50%), dan (40:60 %). Adapun parameter pengamatan yakni uji proksimat (kadar air, kadar abu, kadar protein, lemak dan karbohidrat), uji zat besi serta mutu organoleptik (warna , aroma, rasa dan tekstur). Selanjutnya dilakukan uji daya terima pada siswa SD menggunakan metode facial hedonic scale. Hasil uji proksimat berturut - turut A1, A2, A3 dan A4 yaitu kadar air (1,23%, 1,52%, 1,15%, 1,32%), kadar abu (1,19%, 1,32%, 1,63%, 1,95 %), kadar protein (9,82%, 10,86%, 11,70%, 11,25%) lemak (19,00%, 13,60%, 18,92%, 8,51%) dan karbohidrat (68,76%, 72,69%, 66,60%, 76,97%). Sedangkan hasil uji zat besi berturut - turut A1, A2, A3, A4 yakni (101,23 ug/l, 68,60 ug/l, 28,40 ug/l dan 47,20 ug/l). Berdasarkan hasil organoleptik, dipilih perlakuan terbaik dari empat perlakuan yakni perlakuan A1 dengan perbandingan tepung beras 70% dan tepung kacang gude 30%. Selanjutnya dilakukan uji daya terima terhadap siswa SD diperoleh 34 orang menjawab suka, 9 orang menjawab netral, 5 orang menjawab tidak suka, dan 2 orang menjawab sangat tidak suka. Kesimpulan dari penelitian ini yakni formulasi terbaik secara organoleptic adalah perlakuan A1 (70:30%), sedangkan formulasi yang tepat secara kandungan gizi adalah perlakuan A4 (40:60%).
650 # # $a Baruasa
650 # # $a Daun kelor (Moringa oleifera)
650 # # $a Kacang gude ( Cajanus cajan)
650 # # $a Zat besi
Content Unduh katalog