02967 2200289 4500001002100000005001500021035002000036008003900056042000700095024002200102024006900124546002100193787020100214540001300415786001700428246001000445655002300455041000800478100002000486700001800506245012400524260004800648520192900696650002202625084001802647250001202665INLIS00000000000888020200326073109 a0010-0517008880200326 | | |  adc0 a--ermithasav-94260 a/Skripsi/Isipol / social politic/Ilmu Politik/Political Studies/ aBahasa Indonesia0 n12015-01-07 13:16:52--ermithasav-9426-1-13-ermit-).pdf./files/disk1/189/--ermithasav-9426-1-13-ermit-).pdf/download.php?id=926213-ERMITHA SAVITRY-E12108288(FILEminimizer).pdfapplication/pdf1154722 a#RIGHTS#0 n#SOURCE_URL#0 a-2013 02localadc_document aind0 aErmitha Savitry0 a#CONTRIBUTOR#1 aANALISIS KEMAMPUAN KEUANGAN DAERAH DALAM PELAKSANAAN OTONOMI DAERAH TAHUN 2007-2011 DI KOTA MAKASSAR /cErmitha Savitry aUniversitas Hasanuddin :bFak ISIPOL,c2013 aPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat perkembangan kemampuan keuangan Kota Makassar dalam rangka mendukung pelaksanaan otonomi daerah dan konstribusi Pendapatan Asli Daerah terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kota Makassar tahun anggaran 2007-2011. Jenis penelitian adalah kuantitatif kualitatif (mixed method). Dimana, penelitian kuantitaif menggunakan beberapa rasio keuangan, yaitu: rasio kemandirian keuangan daerah, rasio derajat desentralisasi fiskal, rasio indeks kemampuan rutin, rasio keserasian, dan rasio pertumbuhan, sedangkan penelitian kualitatif membantu interpretasi hubungan antara variabel dan mengungkapkan alasan bagi hubungan-hubungan itu serta menjelaskan faktor-faktor yang mendasari hubungan yang terbangun.Tipe penelitian adalah deskriptif dimana akan diuraikan dan dianalisis permasalahan penelitian. Peneliti berusaha memaparkan peristiwa dan kejadian yang menjadi pusat perhatiannya, kemudian peristiwa tersebut dideskripsikan menggunakan Indeks Kemampuan Keuangan sebagai alat analisis.Hasil penelitian, rasio kemandirian keuangan daerah yang memperoleh hasil rata-rata sebesar 18,30% atau berada pada pola hubungan instruktif. Rasio derajat desentralisasi fiskal dan rasio indeks kemampuan rutin yang menunjukkan kemampuan keuangan daerah masih kurang, yaitu sebesar 15,39% dan 24,99%. Pada rasio keserasian, pengeluaran belanja rutin lebih besar dibandingkan dengan belanja pembangunan dengan gap sebesar 25,60%. Rasio pertumbuhan, secara keseluruhan mengalami pertumbuhan yang negatif, karena peningkatan pendapata asli daerah dan total pendapatan daerah tdak diikuti oleh pertumbuhan belanja pembangunan, tetapi diikuti oleh pertumbuhan belanja rutin. Konstribusi PAD terhadap APBD, masih kurang, yaitu sebesar 15,39%. Dengan melihat hasil analisis tersebut, perkembangan kemampuan keuangan Kota Makassar dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah dianggap masih kurang. aIlmu Pemerintahan aSKR-S13 SAV a aSkripsi