02103 2200181 4500001002100000005001500021035002000036245013900056100001900195250001200214300002200226260004800248084001800296650001800314650001900332650000900351520156100360INLIS00000000005747420200518092849 a0010-05200001761 aTINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP PEMBAYARAN ZAKAT FITRAH MELALUI BIDAN (DUKUN BERANAK) DI KECAMATAN CINA KABUPATEN BONE /cAUDINA DAHNIAR0 aAUDINA DAHNIAR aSkripsi a114 hlm. :bilus. aUniversitas Hasanuddin :bFak. Hukum,c2020 aSKR-H20 AUD t aZakat Fitrah, aDukun Beranak, aBone aPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemahaman masyarakat terkait pembayaran zakat fitrah melalui Bidan (Dukun Beranak) di Kecamatan Cina Kabupaten Bone dan mengetahui pandangan Hukum Islam terhadap pembayaran zakat fitrah yang bukan melalui badan amil zakat. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Cinennung, Kecamatan Cina, Kabupaten Bone, dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara secara langsung kepada narasumber untuk memperoleh informasi terkait dengan judul penelitian penyusun, data yang diperoleh, baik data primer maupun data sekunder dianalisis dengan teknik kualitatif kemudian disajikan secara deskriptif yaitu menjelaskan, menguraikan dan menggambarkan sesuai dengan permasalahan yang erat kaitannya dengan penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa. a). Pemahaman zakat fitrah oleh masyarakat dusun pationgi dibolehkan yang didasarkan pada kebiasaan atau tradisi yang berlaku di masyarakat setempat. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa dukun beranak membantu proses persalinan dan dahulu kala belum ada tempat tertentu yang ditunjuk pemerintah sebagai tempat menyalurkan zakat. b). Pandangan hukum Islam terhadap praktik pembayaran zakat fitrah melalui dukun beranak adalah sah karena dukun beranak dikategorikan sebagai golongan miskin. Akan tetapi dalam hal terjadi penumpukan harta atas aktivitas penerimaan zakat oleh dukun beranak, maka hal tersebut menurut hukum Islam tidak sah. Hal ini merujuk pada Al-Qur?an surat At-Taubah ayat 60, juga didasarkan pada surat Al-Ma?arij ayat 24 dan Urf.